Ibu Hapsah
| doc. pribadi |
“Ketika gempa terjadi saya masih
kelas 5 SD rasanya. Tepat hari itu saya seperti biasa membantu Ayah berjualan
daging keliling. Saat saya masih menjajakan
daging berkeliling desa, tiba-tiba tanah bergoyang. Tanpa berpikir
panjang saya langsung mendekat ke tembok rumah
warga bermaksud untuk berlindung. Tapi, maksud itu berujung tragis.
Goncangan bumi semakin keras, sehingga menyebabkan rumah yang saya gunakan
untuk berlindung roboh. Saya yang berdiri di sebelah tembok, tak terhelakan
terkena reruntuhan bangunan. Hingga saya tidak sadarkan diri cukup lama. Cerita
kakak saya, saat itu ia melihat rambut saya di bawah reruntuhan bangunan.
Karena saya lama tidak sadarkan diri, saya dikira meninggal. Sehingnga saya
diletakkan bersama mayat-mayat lainnya. Entah apa yang terjadi saat itu, setelah
berjam-jam tak sadarkan diri saya mampu menggerakkan jari-jari saya, warga yang
melihat langsung kaget. Samar-samar saya mendengar teriakan, “Hapsah
hidup…Hapzah hidup”. Saya langsung dilarikan ke rumah sakit umun di Singaraja
untuk mendapat perawatan.
Sampai
sekarang saya takkan lupa tragedi itu. Tragedi yang telah meninggalkan bekas
hingga kini. Bekas luka pada batin dan fisik saya. Kini bahu saya tidak
memiliki posisi yang sama. Tapi, saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan
uasia yang panjang.”
Bapak M. Zaki
| doc. pribadi |
“Wah….saat gempa tahun 1976 itu,
saya dengan keluarga sedang beristirahat siang di rumah. Putra pertama saya
saat itu masih sangat kecil dan lelap tertidur. Tiba-tiba saya merasakan ada
goncangan pada rumah saya, lalu saya keluar dan goncangan kembali datang dengan
skala yang lebih besar. Rumah saya mulai roboh. Seketika itupun, saya panik dan langsung menyelamatkan istri
dan anak saya. Untunglah saya dan istri baik-baik saja, meski sempat terkena reruntuhan
rumah. Tapi tubuh pada anak saya terluka. Saya saat itu ingat dengan ibu saya
yang tinggal berlainan rumah. Saya kemudian lari mencari ibu saya. Banyak
korban berteriak minta tolong kepada saya, tapi saya tak hiraukan. Ada salah
satu korban yang meminta tolong dengan badan yang setengah terbakar. Tapi saya
tidak menolongnya, saya tidak bermaksud untuk egois atau tidak peduli. Saya
lebih mendahulukan untuk meyelamatkan keluarga saya ketimbang orang lain. Saya
terus saja mencari keluarga, hingga saya temukan ibu saya dalam keadaan luka. Semua
keluarga saya berkumpul di depan rumah. Setelah berkumpul, keesokan harinya
saya mengajak anak saya berobat, dan saya dibuat kaget ternyata pada kepala
anak saya tertancap paku. Entah semenjak itukah, kini putra saya itu mengalami
keterbelakangn mental. Setelah gempa bantuan datang kepada kami. Soeharto dan
Bu Tin yang memiliki kuasa pada era saat itu datang dengan membawa bantuan
langsung ke desa saya. Hingga kini saya bersyukur karena keluarga saya selamat.
Semoga saja tidak ada lagi tragedi serupa Gempa Seririt 1976 yang melanda desa
saya.”
Pak Hairuman
![]() |
| doc. pribadi |
“Ya…saat gempa ’76 saya sedang
mempersiapkan acara akad nikah untuk esok harinya. Keluarga dan masyarakat ikut
sibuk membantu. Ada yang membantu di rumah dan di Masjid tempat akad nikah
berlangsung. Ketika ditengah-tengah pekerjaan tiba-tiba ada goncangan. Saya
tidak begitu khawatir karena saya kira hanya gempa kecil biasa. Tapi goncangan
selanjutnya semakin keras, tanah mulai goyang. Saya panik. Saya mencoba
menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, saat dapati rumah sudah hancur dan
disekeliling saya sudah rata dengan reruntuhan. Wahh…saat itu saya mulai
gelisah, pertanda apakah ini?
Sementara
kerabat yang melakukan persiapan di Masjid banyak yang meninggal dan
luka-luka.Kakak saya saat itu ikut juga menjadi korban meninggal. Semua
persiapan yang telah dibuat hancur seketika. Rumah saya hancur dan harta benda
saya entah dimana. Melihat situasi yang terjadi saya dan calon istri
mengurungkan niat saya untuk melakukan akad nikah esok harinya. Saya menunggu
keadaan membaik dulu. Saya juga masih harus memulihkan keadaan yang masih
kacau.
Beberapa
hari kemuadian saya dan calon istri memutuskan untuk melangsungkan akad nikah
di luar desa saja. Kami kemudian melakukan akad nikah yang sederhana di Tanjung
Alam, Lovina. Hingga sekarang kami bisa hidup dengan sederhana dan bahagia.”
Ibu Fatimah
“Iya saya ingat kejadian
itu. Tanggal 14 Juni 1976 tepat hari Rabu pukul 2 siang. Saat itu saya kelas 1
SMP dan sedang belajar di sekolah. Ketika itu ada goncangan yang sangat dahsyat
dan membuat badan saya terhempas. Setelah beberapa menit kemudian, gempa
berhenti dan saya dapati setengah badanku sudah tertimbun reruntuhan
bangunan. Saya melihat ke sekitar dan
teman-teman saya banyak yang terluka dan meninggal. Terdengar jeritan minta
tolong dimana-mana. Masih jelas saya ingat ssat itu ada korban yang tertusuk
kubah masjid di samping sekolah. Saya terus memanjatkan doa kepada Allah
berharap selalu dalam lidungannya. Kemudian saya ditolong oleh seseorang untuk
keluar dari timbunan reruntuhan. Saya bersyukur sekali karena Allah masih
memberikan saya keselamatan. Saya keluar dan menatap segala yang ada di sekitar
sudah hancur.
Ketakutan tak hilang begitu esok tiba. Saya merasa sedih
karena saya dan warga lainnya mengungsi di tempat darurat dengan makanan
seadanya. Kemudian tiba-tiba ada kabar akan datangnya banjir luapan air laut
saat itu. Kami meninggalkan tempat pengungsian untuk mencari tempat aman.
Untungnya kabar banjir itu tidak terjadi.
Mengingat peristiwa itu, membuat saya tak henti-hentinya
mengucap syukur karena saya masih bisa menikmati kehidupan ini lebih lama.”
Dadong Maemunah
Ketika itu saya baru saja menikah.
Tepat siang harinya suami saya pulang kerja, dan kami sempat membincang masalah
keuangan. Tiba-tiba goncangan terjadi sangat dahsyat, suami saya mencoba
melindungi kami. Tapi belum sepat keluar rumah, kami sudah tertimpa reruntuhan
rumah dan lemari dalam keadaan telungkup. Saya berada di atas suami, dan di
atas saya ada reruntuhan tembok dan lemari. Bisa dibayangkan beratnya beban
kami. Kami mencoba teriak tapi teriakan kami mungkin tak terdengar. Hingga
beberapa lama kami tertimbun dan tak sadarkan diri, datanglah katanya keponakan
saya yang menyelamatkan. Ketika sadar saya dan suami sudah berada di tempat
yang aman. Saya kira saat itu ajal akan menjemput kami, syukurnya tidak. Kami
membangun tenda seadanya di tepi pantai.
Ketikan itu saya curiga dengan air laut yang surut, tapi saya tidak
menghiraukannya. Kemudian saya mendengar teriakan menyebut nama “Allah” dengan
histeris. Saya menoleh ke laut, ya…. Allah, air laut datang dari kejauhan dan
menjulang tinggi sekali. Saya terus berpasrah dan berdoa, air mata tak
terbendung, khayalan sudah tak karuan. Kemudian tiba-tiba keluarga saya
berteriak dan menunjuk ke tengah laut. Mereka melihat laki-laki berbaju putih
menghentikan ombak yang besar dan tinggi itu. Tapi saya tidak bisa melihat
laki-laki yang dimaksud. Semua kemudian bersujud syukur karena air laut itu
tidak sampai jatuh ke daratan. Betapa Allah maha besar, sujud doa yang saya dan
warga panjatkan terkabul. Saya bias hidup sampai sekarang sudah sangat
bersyukur.
Dadong Masnah
| doc. pribadi |
“Waktu itu saya tidak
punya firasat apa-apa. Tapi saya dan suami menyadari ada yang berbeda dengan
langit hari itu. Langit kelabu dan suasana sangat berbeda. Kami mencoba untuk
tidak berpikiran macam-macam. Saat itu juga penyakitku kambuh lagi, ulu hatiku
sesak dan tersa ditarik-tarik. Saya memutuskan untuk tidur saja, berharap sakit
saya hilang. Di tengah-tengah tidurku samar–samar terdengar teriakan
“idup…idup…idup”, saya ingat kalau orang Bali biasanya meneriakan kata itu
kalau terjadi gempa. Saya segera keluar kamar. Saya kira gempa biasa, tapi
goncangan kedua datang dan lebih besar lagi. Saya melihat di depan sudah banyak
bata berserakan, saya pun tertindih bata juga. Ketika saya menoleh ke kiri,
tiba-tiba seng rumah tetangga menimpa punggung saya. Reruntuhan tembok dan atap
rumah membuat bebanku berlimpat ganda. Rasanya tertimbun membuat ku sesak dan
sakit di bagian ulu hati. Pernafasan mulai terganggu. “Tuhan bila kau mau
menjemputku sekarang jemputlah dan ringankan rasa sakit ini…”, saya berpasrah
pada yang kuasa. Saya terus menahan sakit, hingga akhirnya terdengar teriakan
kecil memanggil nama saya “Masnah…Masnah…Masnah…”, tapi saya tidak menjawabnya.
Teriakan itu terdengar seperti suara suami saya. Suara itu perlahan makin
melemah, samar-samar dan akhirnya menghilang menghilang.
Ketika saya bangun, saya sudah ada di tepi pantai serta
dikelilingi anak dan suami. Ahh…aku masih hidup. Tapi saya masih harus dibawa
ke rumah sakit karena tulang punggung saya patah. Saya harus berbagi tempat di
lorong rumah sakit. Hingga kini nyeri masih sering saya rasakan. Ya begitulah….
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerita adalah tuturan yang membentangkan bagaimana
terjadinya suatu hal, peristiwa, kejadian, dsb. Sebuah peristiwa atau kisah
akan bermakna keberadaannya setelah ia diceritakan. Dengan bercerita kita bisa
mempertajam ingatan pada sebuah peristiwa. Untuk itu mari kita mulai bercerita! Dalam buku ini sedikit tidaknya bisa bercerita mengenai gempa bumi yang
melanda Bali Utara, yang kemudian dikenal dengan nama “Gempa Seririt”.
Tulisan ini saya persembahkan bagi mereka yang
mau mengingat dan bercerita tentang sejarah mereka. Untuk semua teman-teman
yang memiliki rasa keingintahuan. Untuk semua teman dan sahabat. Semoga tulisan
ini bermakna dan bermanfaat.
Terima kasih yang tak terhingga untuk kakak,
adik, ibu, bapak, kakek, dan nenek di Pengastulan, Seririt atas cerita dan
kehangatannya. Terima kasih untuk semua teman, sahabat, dan dosen yang telah
membantu dan membimbing penulis dalam proses kreatif ini.
@ 2014


