Di balik peristiwa “Gempa Seririt” itu, memuat cerita-cerita yang
kita tak pernah tahu. Cerita tangisan, jeritan, dan doa.
Tulisan ini mencoba membuka kembali memori masyarakat korban gempa
yang terdapat di desa Pengastulan. Cerita-cerita dalam tulisan terkumpul dari
ingatan warga 38 tahun silam. Semoga tulisan ini mampu bercerita dengan baik
dan bisa membuat kita kembali lagi mengingat peristiwa “Gempa Seririt ‘76”
silam.
Pengastulan Sebelum Gempa Terjadi
![]() |
| doc. pribadi (candi pura di pengastulan) |
Menurut cerita, dulu desa
Pengastulan yang terletak di kecamatan Seririt ini merupakan desa yang alami dan subur.
Terdapat banyak perkebunan dan “tegalan”. Bangunan rumah dan pura terbuat dari bahan-bahan alam.
Berada di dekat pantai, membuat sebagian besar masyarakat di sana bermatapencaharian sebagai
nelayan. Ada juga yang mengurusi kebun,
dan berdagang keliling atau warung. Rumah mereka dulu masih sangat sederhana, tembok masih berlapiskan
bata sementara atapnya terbuat dari daun kelapa kering. Hari-hari masyarakat disibukkan dengan
pekerjaan mereka.Tapi, tanpa diduga pada
suatu hari tepat 14 Juni 1976 di tengah aktivitas, masyarakat di desa
Pengastulan dan Seririt di kagetkan dengan adanya gunjangan-gunjangan. Dimulai
dari gunjangan kecil, semakin keras, dan kemudian terjadilah gempa yang sangat
dahsyat.
Ketika Gempa Terjadi
Gempa bumi Seririt terjadi pada 4 Juli
1976, sekitar pukul 2 siang tepatnya hari Rabu. Gempa bumi ini berkekuatan 6.2
Skala Richter dengan episentrum di lautan Pengastulan. Warga lari ke sana ke
mari mencari pertolongan dan sanak keluarga mereka. Jeritan tangisan, dan
teriakan minta tolong terdengar jelas. Bangunan dimana-mana rusak. Rumah tempat
tinggal, Pura, Masjid roboh, dan jalanan retak.
Gempa bumi Seririt menelan korban
tewas sebanyak 559 orang, luka berat 850 orang dan luka ringan 3.200 orang.
Dilaporkan juga, hampir 75% dari seluruh bangunan rumah mengalami kerusakan.
Desa terparah yang menelan korban yaitu desa Pengastulan. Gempa ini
meluluhlantakan apa yang ada saat itu. Air laut meninggi hingga setara dengan
pohon kelapa, tapi berkat kuasa Tuhan air laut itu tidak sampai membanjiri
desa. Air laut surut kembali dengan sendirinya.
..........................................................................................................................................................................................
Tulisan ini dibuat berdasarkan
observasi langsung ke Pengastulan, Seirit :)

Tiada ulasan:
Catat Ulasan