Isnin, 16 Jun 2014

Gempa Seririt '76



Ini adalah sedikit cerita dari tentang peristiwa 38 tahun silam. Tepat 14 Juni 1976, sebuah gempa dahsyat melanda Bali Utara. Gempa dahsyat itu berpusat di dasar laut Pengastulan, Seririt, Buleleng, Bali yang kemudian dikenal dengan nama “Gempa Seririt”. Peristiwa itu melanda  wilayah di kecamatan Seririt, seperti desa Pengastulan, Loka Paksa, Seririt, dan wilayah sekitarnya. Dari  sekian  wilayah yang terkena gempa, Pengastulan merupakan desa terparah yang mengalami kerusakan dan menelan banyak korban jiwa.
Di balik peristiwa “Gempa Seririt” itu, memuat cerita-cerita yang kita tak pernah tahu. Cerita tangisan, jeritan, dan doa.
Tulisan ini mencoba membuka kembali memori masyarakat korban gempa yang terdapat di desa Pengastulan. Cerita-cerita dalam tulisan terkumpul dari ingatan warga 38 tahun silam. Semoga tulisan ini mampu bercerita dengan baik dan bisa membuat kita kembali lagi mengingat peristiwa “Gempa Seririt ‘76” silam.
Pengastulan Sebelum Gempa Terjadi


doc. pribadi (candi pura di pengastulan)
Menurut cerita, dulu desa Pengastulan yang terletak di kecamatan Seririt ini merupakan desa yang alami dan subur. Terdapat banyak perkebunan dan “tegalan”. Bangunan rumah dan pura terbuat dari bahan-bahan alam. Berada di dekat pantai, membuat sebagian besar masyarakat di sana bermatapencaharian sebagai nelayan. Ada juga yang mengurusi kebun, dan berdagang keliling atau warung. Rumah mereka dulu masih sangat sederhana, tembok masih berlapiskan bata sementara atapnya terbuat dari daun kelapa kering. Hari-hari masyarakat disibukkan dengan pekerjaan mereka.Tapi, tanpa diduga pada suatu hari tepat 14 Juni 1976 di tengah aktivitas, masyarakat di desa Pengastulan dan Seririt di kagetkan dengan adanya gunjangan-gunjangan. Dimulai dari gunjangan kecil, semakin keras, dan kemudian terjadilah gempa yang sangat dahsyat.

Ketika Gempa Terjadi
Gempa bumi Seririt terjadi pada 4 Juli 1976, sekitar pukul 2 siang tepatnya hari Rabu. Gempa bumi ini berkekuatan 6.2 Skala Richter dengan episentrum di lautan Pengastulan. Warga lari ke sana ke mari mencari pertolongan dan sanak keluarga mereka. Jeritan tangisan, dan teriakan minta tolong terdengar jelas. Bangunan dimana-mana rusak. Rumah tempat tinggal, Pura, Masjid roboh, dan jalanan retak.
 Gempa bumi Seririt menelan korban tewas sebanyak 559 orang, luka berat 850 orang dan luka ringan 3.200 orang. Dilaporkan juga, hampir 75% dari seluruh bangunan rumah mengalami kerusakan. Desa terparah yang menelan korban yaitu desa Pengastulan. Gempa ini meluluhlantakan apa yang ada saat itu. Air laut meninggi hingga setara dengan pohon kelapa, tapi berkat kuasa Tuhan air laut itu tidak sampai membanjiri desa. Air laut surut kembali dengan sendirinya.
..........................................................................................................................................................................................

Tulisan ini dibuat berdasarkan observasi langsung ke Pengastulan, Seirit :)

 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan