Isnin, 16 Jun 2014

CERITA MEREKA (di Balik Gempa Seririt '76)



Ibu Hapsah
doc. pribadi
“Ketika gempa terjadi saya masih kelas 5 SD rasanya. Tepat hari itu saya seperti biasa membantu Ayah berjualan daging keliling. Saat saya masih menjajakan  daging berkeliling desa, tiba-tiba tanah bergoyang. Tanpa berpikir panjang saya langsung mendekat ke tembok rumah  warga bermaksud untuk berlindung. Tapi, maksud itu berujung tragis. Goncangan bumi semakin keras, sehingga menyebabkan rumah yang saya gunakan untuk berlindung roboh. Saya yang berdiri di sebelah tembok, tak terhelakan terkena reruntuhan bangunan. Hingga saya tidak sadarkan diri cukup lama. Cerita kakak saya, saat itu ia melihat rambut saya di bawah reruntuhan bangunan. Karena saya lama tidak sadarkan diri, saya dikira meninggal. Sehingnga saya diletakkan bersama mayat-mayat lainnya. Entah apa yang terjadi saat itu, setelah berjam-jam tak sadarkan diri saya mampu menggerakkan jari-jari saya, warga yang melihat langsung kaget. Samar-samar saya mendengar teriakan, “Hapsah hidup…Hapzah hidup”. Saya langsung dilarikan ke rumah sakit umun di Singaraja untuk mendapat perawatan.
          Sampai sekarang saya takkan lupa tragedi itu. Tragedi yang telah meninggalkan bekas hingga kini. Bekas luka pada batin dan fisik saya. Kini bahu saya tidak memiliki posisi yang sama. Tapi, saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan uasia yang panjang.”


Bapak M. Zaki
doc. pribadi
“Wah….saat gempa tahun 1976 itu, saya dengan keluarga sedang beristirahat siang di rumah. Putra pertama saya saat itu masih sangat kecil dan lelap tertidur. Tiba-tiba saya merasakan ada goncangan pada rumah saya, lalu saya keluar dan goncangan kembali datang dengan skala yang lebih besar. Rumah saya mulai roboh. Seketika itupun,  saya panik dan langsung menyelamatkan istri dan anak saya. Untunglah saya dan istri baik-baik saja, meski sempat terkena reruntuhan rumah. Tapi tubuh pada anak saya terluka. Saya saat itu ingat dengan ibu saya yang tinggal berlainan rumah. Saya kemudian lari mencari ibu saya. Banyak korban berteriak minta tolong kepada saya, tapi saya tak hiraukan. Ada salah satu korban yang meminta tolong dengan badan yang setengah terbakar. Tapi saya tidak menolongnya, saya tidak bermaksud untuk egois atau tidak peduli. Saya lebih mendahulukan untuk meyelamatkan keluarga saya ketimbang orang lain. Saya terus saja mencari keluarga, hingga saya temukan ibu saya dalam keadaan luka. Semua keluarga saya berkumpul di depan rumah. Setelah berkumpul, keesokan harinya saya mengajak anak saya berobat, dan saya dibuat kaget ternyata pada kepala anak saya tertancap paku. Entah semenjak itukah, kini putra saya itu mengalami keterbelakangn mental. Setelah gempa bantuan datang kepada kami. Soeharto dan Bu Tin yang memiliki kuasa pada era saat itu datang dengan membawa bantuan langsung ke desa saya. Hingga kini saya bersyukur karena keluarga saya selamat. Semoga saja tidak ada lagi tragedi serupa Gempa Seririt 1976 yang melanda desa saya.”



Pak Hairuman
doc. pribadi
“Ya…saat gempa ’76 saya sedang mempersiapkan acara akad nikah untuk esok harinya. Keluarga dan masyarakat ikut sibuk membantu. Ada yang membantu di rumah dan di Masjid tempat akad nikah berlangsung. Ketika ditengah-tengah pekerjaan tiba-tiba ada goncangan. Saya tidak begitu khawatir karena saya kira hanya gempa kecil biasa. Tapi goncangan selanjutnya semakin keras, tanah mulai goyang. Saya panik. Saya mencoba menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, saat dapati rumah sudah hancur dan disekeliling saya sudah rata dengan reruntuhan. Wahh…saat itu saya mulai gelisah, pertanda apakah ini?
          Sementara kerabat yang melakukan persiapan di Masjid banyak yang meninggal dan luka-luka.Kakak saya saat itu ikut juga menjadi korban meninggal. Semua persiapan yang telah dibuat hancur seketika. Rumah saya hancur dan harta benda saya entah dimana. Melihat situasi yang terjadi saya dan calon istri mengurungkan niat saya untuk melakukan akad nikah esok harinya. Saya menunggu keadaan membaik dulu. Saya juga masih harus memulihkan keadaan yang masih kacau.
          Beberapa hari kemuadian saya dan calon istri memutuskan untuk melangsungkan akad nikah di luar desa saja. Kami kemudian melakukan akad nikah yang sederhana di Tanjung Alam, Lovina. Hingga sekarang kami bisa hidup dengan sederhana dan bahagia.”

Ibu Fatimah
“Iya saya ingat kejadian itu. Tanggal 14 Juni 1976 tepat hari Rabu pukul 2 siang. Saat itu saya kelas 1 SMP dan sedang belajar di sekolah. Ketika itu ada goncangan yang sangat dahsyat dan membuat badan saya terhempas. Setelah beberapa menit kemudian, gempa berhenti dan saya dapati setengah badanku sudah tertimbun reruntuhan bangunan.  Saya melihat ke sekitar dan teman-teman saya banyak yang terluka dan meninggal. Terdengar jeritan minta tolong dimana-mana. Masih jelas saya ingat ssat itu ada korban yang tertusuk kubah masjid di samping sekolah. Saya terus memanjatkan doa kepada Allah berharap selalu dalam lidungannya. Kemudian saya ditolong oleh seseorang untuk keluar dari timbunan reruntuhan. Saya bersyukur sekali karena Allah masih memberikan saya keselamatan. Saya keluar dan menatap segala yang ada di sekitar sudah hancur.
          Ketakutan tak hilang begitu esok tiba. Saya merasa sedih karena saya dan warga lainnya mengungsi di tempat darurat dengan makanan seadanya. Kemudian tiba-tiba ada kabar akan datangnya banjir luapan air laut saat itu. Kami meninggalkan tempat pengungsian untuk mencari tempat aman. Untungnya kabar banjir itu tidak terjadi.
          Mengingat peristiwa itu, membuat saya tak henti-hentinya mengucap syukur karena saya masih bisa menikmati kehidupan ini lebih lama.”



Dadong Maemunah
Ketika itu saya baru saja menikah. Tepat siang harinya suami saya pulang kerja, dan kami sempat membincang masalah keuangan. Tiba-tiba goncangan terjadi sangat dahsyat, suami saya mencoba melindungi kami. Tapi belum sepat keluar rumah, kami sudah tertimpa reruntuhan rumah dan lemari dalam keadaan telungkup. Saya berada di atas suami, dan di atas saya ada reruntuhan tembok dan lemari. Bisa dibayangkan beratnya beban kami. Kami mencoba teriak tapi teriakan kami mungkin tak terdengar. Hingga beberapa lama kami tertimbun dan tak sadarkan diri, datanglah katanya keponakan saya yang menyelamatkan. Ketika sadar saya dan suami sudah berada di tempat yang aman. Saya kira saat itu ajal akan menjemput kami, syukurnya tidak. Kami membangun  tenda seadanya di tepi pantai. Ketikan itu saya curiga dengan air laut yang surut, tapi saya tidak menghiraukannya. Kemudian saya mendengar teriakan menyebut nama “Allah” dengan histeris. Saya menoleh ke laut, ya…. Allah, air laut datang dari kejauhan dan menjulang tinggi sekali. Saya terus berpasrah dan berdoa, air mata tak terbendung, khayalan sudah tak karuan. Kemudian tiba-tiba keluarga saya berteriak dan menunjuk ke tengah laut. Mereka melihat laki-laki berbaju putih menghentikan ombak yang besar dan tinggi itu. Tapi saya tidak bisa melihat laki-laki yang dimaksud. Semua kemudian bersujud syukur karena air laut itu tidak sampai jatuh ke daratan. Betapa Allah maha besar, sujud doa yang saya dan warga panjatkan terkabul. Saya bias hidup sampai sekarang sudah sangat bersyukur.



Dadong Masnah
doc. pribadi
“Waktu itu saya tidak punya firasat apa-apa. Tapi saya dan suami menyadari ada yang berbeda dengan langit hari itu. Langit kelabu dan suasana sangat berbeda. Kami mencoba untuk tidak berpikiran macam-macam. Saat itu juga penyakitku kambuh lagi, ulu hatiku sesak dan tersa ditarik-tarik. Saya memutuskan untuk tidur saja, berharap sakit saya hilang. Di tengah-tengah tidurku samar–samar terdengar teriakan “idup…idup…idup”, saya ingat kalau orang Bali biasanya meneriakan kata itu kalau terjadi gempa. Saya segera keluar kamar. Saya kira gempa biasa, tapi goncangan kedua datang dan lebih besar lagi. Saya melihat di depan sudah banyak bata berserakan, saya pun tertindih bata juga. Ketika saya menoleh ke kiri, tiba-tiba seng rumah tetangga menimpa punggung saya. Reruntuhan tembok dan atap rumah membuat bebanku berlimpat ganda. Rasanya tertimbun membuat ku sesak dan sakit di bagian ulu hati. Pernafasan mulai terganggu. “Tuhan bila kau mau menjemputku sekarang jemputlah dan ringankan rasa sakit ini…”, saya berpasrah pada yang kuasa. Saya terus menahan sakit, hingga akhirnya terdengar teriakan kecil memanggil nama saya “Masnah…Masnah…Masnah…”, tapi saya tidak menjawabnya. Teriakan itu terdengar seperti suara suami saya. Suara itu perlahan makin melemah, samar-samar dan akhirnya menghilang menghilang.
          Ketika saya bangun, saya sudah ada di tepi pantai serta dikelilingi anak dan suami. Ahh…aku masih hidup. Tapi saya masih harus dibawa ke rumah sakit karena tulang punggung saya patah. Saya harus berbagi tempat di lorong rumah sakit. Hingga kini nyeri masih sering saya rasakan. Ya begitulah….


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Cerita adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal, peristiwa, kejadian, dsb. Sebuah peristiwa atau kisah akan bermakna keberadaannya setelah ia diceritakan. Dengan bercerita kita bisa mempertajam ingatan pada sebuah peristiwa. Untuk itu mari kita mulai bercerita! Dalam buku ini sedikit tidaknya bisa bercerita mengenai gempa bumi yang melanda Bali Utara, yang kemudian dikenal dengan nama “Gempa Seririt”.
Tulisan ini saya persembahkan bagi mereka yang mau mengingat dan bercerita tentang sejarah mereka. Untuk semua teman-teman yang memiliki rasa keingintahuan. Untuk semua teman dan sahabat. Semoga tulisan ini bermakna dan bermanfaat.

Terima kasih yang tak terhingga untuk kakak, adik, ibu, bapak, kakek, dan nenek di Pengastulan, Seririt atas cerita dan kehangatannya. Terima kasih untuk semua teman, sahabat, dan dosen yang telah membantu dan membimbing penulis dalam proses kreatif ini.



 @ 2014

1 ulasan: