![]() |
| Telaten memperbaiki sandalnya. Foto: Sus |
![]() |
| Berjalan seusai memperbaiki sandalnya. Foto: Susi |
Kita hidup di dunia tidaklah
sendiri. Bila kita peka terhadap sekeliling, kita akan menjumpai individu yang
beragam. Salah satu yang penulis sadari
adalah bagaimana kehidupan dan cara pandang setiap individu itu sangatlah
berbeda.
Suatu ketika seorang kakek paruh baya berjalan kaki di
sebuah gang dengan membawa kresek berisikan botol dan kardus bekas. Tiba-tiba
ia berhenti. Tahu apa yang terjadi? Sandal jepit kakek itu putus. Kakek itu
menepi dan memperbaiki sandalnya. Dengan kawat dan sebuah benda semacam pengait
sampah, digunakannya untuk memperbaiki sandal itu. Kakek itu hanya membutuhkan
beberapa menit untuk memperbaiki. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya untuk mengais rejeki. Mungkin, ada yang berpikiran bahwa sandal
putus yang memang harus diperbaiki. Tidak ada yang istimewa. Tapi sadarkah kita,
mungkin sandal itu adalah barang berharga bagi kakek itu. Mungkin sandal jepit itu
adalah sandal satu-satunya yang ia miliki. Kalau kemudian sadal itu putus dan
dibuang, dimana lagi ia harus mencari sebuah sandal untuk alas kakinya. Bagi
seorang kakek dengan pekerjaan mengumpulkan barang-barang bekas, sangat
berhargalah sebuah sandal yang ia pakai itu. Sedangkan, bagi sebagian orang
yang hidup berkecukupan, sandal adalah barang yang mudah didapatkan. Tak perlu
menunggu sampai putus atau rusak, mereka akan mengganti dan membeli yang baru.
Sandal yang telah putus tak jarang diabaikan dan dibuang.
Di balik cerita kakek tadi, mari kita bercermin. Dalam
menghadapi hidup ini, mari kita mulai menghargai apa yang ada di sekeliling
kita. Melihat seorang kakek paruh baya dengan pekerjaan mengumpulkan barang
bekas bisa menghargai sendalnya. Kenapa individu yang berkecukupan tidak bisa?
Ayoo…kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri.


Tiada ulasan:
Catat Ulasan