Ahad, 16 Disember 2012

Sandal Jepit Sang Kakek

Telaten memperbaiki sandalnya. Foto: Sus
Berjalan seusai memperbaiki sandalnya. Foto: Susi
Kita hidup di dunia tidaklah sendiri. Bila kita peka terhadap sekeliling, kita akan menjumpai individu yang beragam.  Salah satu yang penulis sadari adalah bagaimana kehidupan dan cara pandang setiap individu itu sangatlah berbeda.
          Suatu ketika seorang kakek paruh baya berjalan kaki di sebuah gang dengan membawa kresek berisikan botol dan kardus bekas. Tiba-tiba ia berhenti. Tahu apa yang terjadi? Sandal jepit kakek itu putus. Kakek itu menepi dan memperbaiki sandalnya. Dengan kawat dan sebuah benda semacam pengait sampah, digunakannya untuk memperbaiki sandal itu. Kakek itu hanya membutuhkan beberapa menit untuk memperbaiki. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya untuk mengais rejeki. Mungkin, ada yang berpikiran bahwa sandal putus yang memang harus diperbaiki. Tidak ada yang istimewa. Tapi sadarkah kita, mungkin sandal itu adalah barang berharga bagi kakek itu. Mungkin sandal jepit itu adalah sandal satu-satunya yang ia miliki. Kalau kemudian sadal itu putus dan dibuang, dimana lagi ia harus mencari sebuah sandal untuk alas kakinya. Bagi seorang kakek dengan pekerjaan mengumpulkan barang-barang bekas, sangat berhargalah sebuah sandal yang ia pakai itu. Sedangkan, bagi sebagian orang yang hidup berkecukupan, sandal adalah barang yang mudah didapatkan. Tak perlu menunggu sampai putus atau rusak, mereka akan mengganti dan membeli yang baru. Sandal yang telah putus tak jarang diabaikan dan dibuang.
          Di balik cerita kakek tadi, mari kita bercermin. Dalam menghadapi hidup ini, mari kita mulai menghargai apa yang ada di sekeliling kita. Melihat seorang kakek paruh baya dengan pekerjaan mengumpulkan barang bekas bisa menghargai sendalnya. Kenapa individu yang berkecukupan tidak bisa? Ayoo…kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan